Social Media Analysis untuk Branding | 087886000787

social media analysis untuk branding saat ini menjadi suatu fenomena yang diperdebatkan dalam dunia bisnis. untuk memahaminya maka penting pula memahami mitos dan ilusi  mengenai social media bagi bagi para pelaku bisnis terutama di Indonesia

10 Mitos dan Ilusi Social Media untuk Bisnis

Saya ingin berkolaborasi dengan pendapat  Hilman Fajrian  yang tercantum dalam  http://soclab.co/10-mitos-danilusi-social-media-untuk-bisnis tanggal  24 February 2015 mengenai 10 mitos dan ilusi media sosial untuk bisnis. Di Indonesia, apalagi di tingkat regional, penggunaan  media sosial dalam  dalam industri masih sangat rendah.  Hal ini  mungkin kurang berlaku pada tahun 2016 yang saat ini terjadi eforia penggunaan medsos sebagai promosi bisnis guna efisiensi biaya iklan korporasi.

Hal yang masih kurang diperhatikan adalah masalah optimasi yang memerlukan keahlian dalam bidang Search Engine Optimation (SEO) yang saat ini justru terabaikan, dengan alasan semua bisa dibayar. Hilman Fajrian melansir, bila pun telah dilakukan oleh brand atau pemilik bisnis, tidak ada upaya dan investasi yang sungguh-sungguh di situ. Yang lebih banyak lagi, beberapa brand mencoba-coba melakukan investasi tanpa tahu apa yang mereka tuju, lakukan dan hasilkan, sehingga investasi terbuang percuma. Ini terjadi tidak lepas dari berbagai pemahaman keliru di kalangan brand terhadap social media untuk bisnis.

 

  1. SOCIAL COMMERCE ITU MURAH

Alasannya: Mendaftarkan akun di hampir semua social media platform itu gratis dan mudah. Bahkan anak berusia 6 tahun bisa mengoperasikannya. Tidak perlu biaya untuk mempublikasikan konten di social media.

Faktanya: Ber-social media itu mudah dan murah, karena itu lah miliaran orang menggunakannya. Tapi ketika social media dibebani tujuan bisnis (social commerce), maka ia tidak sederhana lagi. Bukan social media-nya yang sulit, tapi tujuan bisnis anda yang kompleks. Ketika sebuah aktivitas dibebani tujuan bisnis, anda akan mengeluarkan biaya untuk membayar orang yang punya kemampuan dan keterampilan untuk itu, menyediakan fasilitas dan infrastruktur dan membiayai operasionalnya.

Cara membuktikannya: minta lah kepada seorang pegawai anda untuk mengelola akun social media perusahaan dan katakan padanya (misal) ‘Saya ingin mendapat tambahan 1.000 orang pembeli bulan ini yang asalnya dari social media’, atau ‘Saya ingin informasi perusahaan kita di social media bulan ini dilihat oleh minimal 1 juta orang’.

Konsultanstrategi.com menambahkan bahwa pentingnya optimasi dengan artikel SEO Friendly yang tepat dan bukan seperti buzzer dengan kata-kata yang bersifat bombastis tidak akan nyata manfaatnya.

google-no1-keyword-konsultan-strategi-marketing2
konsultan strategi SEO | 08788 6000 787
  1. SOCIAL MEDIA UNTUK BROADCAST

Alasannya: Begitu lah cara kerja semua media tradisional dimana informasi disebarkan secara vertikal dan menjadikan audien sebagai objek. Pengiklan ingin didengarkan informasinya lewat media tersebut, bukan untuk mendengarkan.

Faktanya: social media adalah media pergaulan dan horisontal. Interaksi dan percakapan adalah inti media ini. Social media bukan tempat anda berpidato, melainkan tempat berbincang untuk memperdalam hubungan antar manusia.  Cara membuktikannya: Buatlah 2 buah konten. Konten pertama adalah informasi promo produk anda. Konten kedua adalah pertanyaan atau kisah yang diselingi humor. Lihat mana yang terbanyak mengundang respons.

Konsultanstrategi berpendapat bahwa walau Social Media digunakan sebagai broadcast namun yang terpenting adalah bagaimana penggunaan artikel berbasiskan mind set para pemirsa yang dapat dilihat dari penggunaan Big Data yang dianalisa dengan keyword analysis untuk mendapatkan sentiment.

  1. KEBERHASILAN SOCIAL COMMERCE BISA DIRAIH DALAM WAKTU SINGKAT

Alasannya: ber-social media itu mudah, beriklan di akun buzzer juga relatif murah, follower dan fans bisa dibeli.  faktanya: sayangnya tidak ada jalan pintas dalam bisnis ini. Keberhasilan social commerce tidak diraih dalam satu malam. Reputasi brand di social media membutuhkan strategi khusus dalam pengelolaannya dan dilakukan secara intens. Strategi, investasi, man power, tools dan kekuatan brand menjadi penentu seberapa cepat keberhasilan social commerce bisa diraih. Upaya-upaya untuk mempersingkat jalan seperti menghabiskan dana besar untuk beriklan di buzzer atau membeli follower/fans palsu hanya akan berakibat meruntuhkan investasi finansial dan reputasi.

Cara membuktikannya: tentukan return/objective yang anda inginkan dalam skala waktu bulanan, dan eksekusi social commerce di akun anda. Dan lihat lah hasilnya.

  1. AKUN BRAND ADALAH PENENTU REPUTASI DAN PALING MEMBERI PENGARUH DALAM KONTEKS BRAND

Alasannya: karena akun social media sebuah brand dikelola oleh brand itu sendiri. Maka orang akan menaruh kepercayaan tertinggi kepada akun brand ketika bicara tentang brand tersebut.

Faktanya: social media adalah flat world dimana informasi tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak. Social media sebagai dunia user generated content (UGC) otentifikasi dan kepercayaan (trust) tidak selalu dipegang oleh pihak yang memiliki kewenangan dan otoritas, dalam hal ini pemilik brand. Di social media brand adalah bagian dari pergaulan horisontal, bukan pemegang kepercayaan tertinggi terhadap informasi. Sangat banyak pihak di social media yang memegang trust jauh lebih besar ketimbang brand dan pengaruh mereka sangat tinggi dalam mempengaruhi audien terhadap isu-isu yang berhubungan dengan brand atau industri. Pihak-pihak ini lebih piawai dalam membangun konten dan interaksi (pada saat brand sedang ‘tidur’) sehingga mereka lebih mendapatkan trust ketimbang brand.

Cara membuktikannya: lihatlah jumlah follower sebuah akun kota seperti @KotaBalikpapan, @InfoBdg atau @InfoJakarta. Bandingkan dengan jumlah follower akun pemerintah daerah masing-masing.

Konsultan  strategi mengedepankan pentingnya support bantuan untuk pengelolaan yang lebih terstruktur s sejumlah akun media sosial.

  1. HASIL INVESTASI SOCIAL COMMERCE TIDAK BISA DIUKUR

Alasannya: Orang hanya iseng-iseng saja menggunakan social media, dan tak ada yang bisa diukur atau dijadikan kesimpulan berdasar rimba raya percakapan.

Faktanya: semua yang berada di dunia maya bisa diukur dengan angka, termasuk social media. Social media adalah dunia word of mouth dan refferal yang bisa mengubah kegiatan pergaulan menjadi cash flow. Social media sebagai bagian dari internet adalah dunia ilmiah — yang syarat terpentingnya adalah pengukuran. Namun membutuhkan keahlian dan keterampilan dalam menentukan indikator pengukuran dan membaca data untuk dihubungkan dengan kepentingan bisnis.

Cara membuktikannya: Bila tujuan/return yang anda inginkan adalah awareness/keterbacaan iklan, beriklanlah di akun buzzer/promoter dengan follower yang besar. Lalu minta data impression (keterbacaan) kepada buzzer. Itu lah angka keterbacaan iklan anda. Bila tujuan/return anda adalah datangnya pembeli dari social media, jual produk anda lewat akun buzzer, dan lihat berapa pembeli yang datang dari informasi tersebut.

Konsultan strategi telah mengembangkan analisa keyword dengan melakukan crawling percakapan di social media

konsultan digital terbaik

  1. SOCIAL COMMERCE SELALU BISA DILAKUKAN SENDIRI

Alasannya: ber-social media itu mudah, bercakap-cakap dengan orang lain juga bisa dilakukan siapapun. Bedanya hanya percakapan itu dilakukan di social media.

Faktanya: social media adalah seni konten dan komunikasi. Ia membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman seperti disiplin ilmu lain. Ketika social media dijadikan alat bisnis, seni konten dan komunikasi itu harus dikesinambungkan dengan tujuan bisnis. Masih juga perlu dipadukan dengan disiplin ilmu lain seperti statistik, teknologi informasi, layanan konsumen dll. Kecuali anda memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman di sekian banyak disiplin ilmu tersebut, maka anda membutuhkan orang lain dalam melakukannya dengan benar.

Cara membuktikannya: minta lah seorang pegawai anda membuat sebuah tweet yang menghasilkan impression/keterbacaan 100.000 orang.

Penelitian lebih lanjut berupa survey dan Focus Discussion Group tetap perlu dilakukan dalam mengukur Return of Investment penggunaan social media.

 

  1. DATA ANALISA DARI SOCIAL MEDIA TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN BISNIS

Alasannya: data analisa itu seringkali remeh atau bahkan sangat rumit. Data social media juga tidak seperti data lain yang banyak digunakan dalam industri.

Faktanya: harus diakui industri yang berhubungan dengan internet memerlukan orang-orang yang gemar bekerja secara ilmiah dan dapat beradaptasi dengan cepat. Mereka tak hanya selalu dihadapkan dengan angka, tapi juga jenis-jenis data baru. Data analisa social media tidak hanya menyediakan data mainstream yang banyak digunakan dalam industri, tapi data yang jauh lebih dalam, luas sekaligus spesifik. Contohnya, dulu kita harus melakukan survei konvensional untuk mengetahui minat atau kepuasan konsumen. Di social media data tersebut bisa didapatkan secara real time dan terus-menerus.

Konsultan Strategi melihat perlu nya ada kajian income yang dilakukan pada pre dan post penggunaan social media. Brand awareness juga menjadi tolak ukur keberhasilan penggunaan medsos.

 

  1. SOCIAL MEDIA AKAN MENGGANTIKAN (MEMBUNUH) MARKET SHARE IKLAN KONVENSIONAL

Alasannya: makin banyak hal yang bisa dilakukan oleh media konvensional juga bisa dilakukan social media. Banyak hal yang tak bisa dilakukan media konvensional tapi bisa dilakukan social media. Orang makin semakin lama menghabiskan waktu di social media ketimbang di media konvensional.

Faktanya: anggapan seperti itu selalu muncul ketika sebuah media baru lahir. Ketika radio lahir orang memprediksi koran akan mati. Saat televisi lahir orang memprediksi radio akan mati. Saat internet lahir orang memprediksi televisi akan mati. Nyatanya sampai sekarang jenis-jenis media tersebut masih hidup.

Lahirnya social media tidak pernah diniatkan untuk membunuh media lain yang sudah ada. Ia melengkapinya. Social media dan media lain lebih pada berkomplemen ketimbang bersubstitusi. Meski harus diakui ada fungsi-fungsi yang bisa disubstitusikan dan setiap media memiliki generasinya masing-masing. Media konvensional yang akan mati karena social media adalah mereka yang tidak bisa beradaptasi dan tak melakukan komplemen serta kovergensi. Ketidakmampuan beradaptasi tidak hanya mengancam keberadaan bisnis media, tapi juga pelaku usaha di semua bidang.

Cara membuktikannya: lihatlah berbagai data tentang market share iklan media yang masih didominasi oleh televisi dan media cetak.

 

  1. SOCIAL MEDIA MEMBUAT WEBSITE TAK DIPERLUKAN LAGI

Alasannya: banyak fungsi website yang bisa dilakukan di social media dan banyak fungsi social media yang tak bisa dilakukan lewat website.

Faktanya: social media dan website hidup di alam yang berbeda. Banyak fungsi yang dimiliki website tapi tak bisa dilakukan social media. Katalog lengkap produk misalnya. Website adalah tempat anda memberikan informasi lebih dalam tentang bisnis dan produk anda serta fungsi otomatis yang lebih kompleks. Pemesanan dan pembelian contohnya. Website adalah ‘kantor’ atau ‘toko’ anda di dunia maya. Social media adalah tempat anda mendekati dan menjalin kedekatan dengan konsumen.

Cara membuktikannya: anda tidak bisa memberikan detil produk anda lewat satu tweet, atau melakukan otomatisasi pembelian lewat Facebook kecuali menautkannya ke website anda.

Konsultan strategi menekankan bahwa Website merupakan sarana utama dan media sosial sebagai pendukung karena dalam bisnis, pencarian kata menggunakan mesin pencari google tetap menjadi andalan

 

  1. BELI FOLLOWER ATAU FANS ADALAH CARA CEPAT UNTUK POPULER

Alasannya: jumlah follower di Twitter atau fans pada Facebook Fanpage adalah social currency utama kehadiran seseorang di social media. Makin banyak maka makin populer. Makin populer maka makin berpengaruh. Makin berpengaruh maka makin bagus. Banyak orang di luar sana menjual follower dan fans yang bisa membuat kita cepat populer.

Faktanya: Anda bisa mendapat banyak follower atau fans, iya. Anda bisa populer karena itu, tidak. Penjual follower di luar sebenarnya memperdagangkan bot/robot. Mereka bukan menawarkan manusia asli dan organik sebagai follower dan fans. Social network yang terhubung antar bot (follower dan fans para bot) adalah bot juga. Tak ada manusia yang menjadi follower bot, karena konten bot hanya berisi penjualan jasa bot. Ketika bot menjadi social network anda, maka anda tidak sedang bercakap dengan manusia, tapi dengan bot – dan bot bukan lah konsumen atau market anda.

Cara membuktikannya: lihat lah profil follower atau fans orang yang menawarkan jasa follower atau fans dan lihat kontennya serta social network-nya. [*]

 

admin

konsultan strategi yang saat ini focus pada pemasaran online dengan kualitas promosi dua dimensi dan tiga dimensi yang optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Read previous post:
big data social media analisis
Konsultan Strategi Insight | BIG DATA

Apa itu Big Data? | analisa konsultan perusahaan asing|087886000787 Pertemuan Konsultan Strategi dengan seorang konsultan perusahaan asing membahas mengenai Big

Close